Jati Diri Kita Sebagai Negara Agraris


“Indonesia merupakan negara agraris sekaligus negara maritim dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah”, Anda tentu sudah akrab dengan kalimat tersebut, bukan? Hal tersebut memang hal yang benar – sekaligus salah. Ini bukanlah permainan kata, tapi memang benar bahwa Indonesia memiliki kekayaan SDA yang berlimpah. Jadi apa yang sebenarnya salah?

Jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya sama dengan pertanyaan berikut: apakah kita sudah memanfaatkan apa yang sudah Tuhan berikan kepada bangsa kita? Jawabannya bukan “tidak”, karena kita sudah banyak tahu tentang para petani, nelayan, dan para pemanfaat SDA lain. Tapi jawabannya juga bukan “ya”, karena kita juga tahu kurang maksimalnya hasil yang kita peroleh. Dengan kata lain, “belum sepenuhnya memanfaatkan sumber daya.” adalah jawabannya.

Kenapa kita belum dapat memanfaatkan SDA kita maksimal? Tentu sumber daya manusia bukanlah masalahnya – tidak untuk negara dengan 200 juta lebih penduduk, dan Saya tidak secara implisit menyuruh anda untuk bertani atau menangkap ikan. Kita perlu ingat sekarang kita berada di era teknologi. Apakah “teknologi ” ini yang menyebabkan kita mengabaikan sumber daya yang kita miliki – menganggap hal seperti bertani jadul atau ketinggalan zaman. Tak seharusnya begitu, di zaman seperti apapun atau semaju apa teknologi yang kita miliki, alam tetap menjadi sumber kehidupan kita yang utama – komputer tidak memberi Anda makan bukan? Kita harus ingat jati diri kita sebagai agrarian dan maritimis, bahkan di era teknologi ini. Teknologi harusnya tidak mengilangkan identitas tersebut.

Yang harusnya terjadi adalah identitas kita menjadi dasar kita mengembangkan teknologi. Teknologi dan identitas kita harus bekerja secara harmonis, dengan identitas sebagai penggeraknya. Contoh sederhananya seperti pengolahan hasil produksi pertanian dengan mesin otomatis untuk produksi dalam jumlah besar yang cukup dikendalikan lewat komputer. Jadi, kita harus dapat membentuk kesinambungan antara kekayaan sumber daya alam kita dan teknologi masa kini yang semakin cutting-edge. Diharapkan kemajuan teknologi dapat membantu kita memanfaatkan SDA kita sepenuhnya, dan mungkin kembali menjadi predikat yang dulu kita pernah raih – karena sumber daya kita: Macan Asia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar